Jumat, 26 April 2013

Intelektual Organik

ISTILAH intelektual organik merupakan sebutan bagi intelektual-akademisi yang mendedikasikan proses pembelajarannya sebagai upaya membuka ruang atas terjadinya gap antara teori dan praktik. Bagi mereka, tidak cukup peran intelektual jika hanya diapresiasikan lewat buku semata. Sebaliknya, lebih dari itu, perannya bagi pemberdayaan masyarakat adalah satu kewajiban yang mutlak.

Dalam studi civil society, beberapa komponen masyarakat yang dapat dikategorikan sebagai aktor gerakan masyarakat sipil (GMS) di antaranya adalah cendekiawan, LSM, pers/media, mahasiswa, dan organisasi masyarakat sipil (non-interest groups).

Dalam struktur sosial, meski belum betul-betul membumi, komponen-komponen itu sering disebut intelektual organik.

Reformasi merupakan satu fase yang sedikit banyak lahir dari upaya intelektual organik. Berbagai gerakan perlawanan terhadap keberadaan negara (state) yang eksploitatif mereka lakukan.

Misalnya, gerakan penyadaran HAM, jender, penyelamatan lingkungan, dan pemberantasan korupsi. Karena itu, tidak mengherankan jika perlawanan itu selalu berakhir dengan kenyataan pahit, seperti mulai dengan pembredelan SIUPP pers/media sampai dengan penculikan dan pembunuhan terhadap aktivis HAM.

"Frozen resistance"

Memasuki era reformasi yang mulai compang-camping, gerakan intelektual organik mulai menunjukkan titik beku meski sebenarnya mereka enggan untuk muncul di permukaan. Namun, kini berbagai proses demokratisasi dan pemberdayaan masyarakat sipil mulai memperlihatkan kondisi yang cukup mengkhawatirkan.

Bekunya gerakan itu bisa dilihat dari sisi kemasan isu dan dana. Beberapa isu yang diangkat dalam hampir bisa dipastikan semuanya merupakan isu yang sudah di set-up di negara maju (Core State). Dengan demikian, isu yang diwacanakan lebih bersifat titipan meski ada juga yang bergerak dengan isu yang dikemas secara mandiri.

Sebagaimana diketahui, beberapa aktivitas intelektual organik dalam GMS tidak lepas dari masalah pendanaan. Secara institusional dan individual, keberadaan GMS, diakui atau tidak, sangat bergantung pada kucuran dana yang diperoleh dari funding agencies.

Akibatnya, beberapa isu yang akan diangkat intelektual organik setidaknya harus menyesuaikan dulu dengan isu atau program yang dimiliki oleh funding agencies.

Karena itu, wajar jika beberapa isu yang diangkat lebih banyak mencerminkan isu global yang seringkali tidak memiliki ikatan emosional dengan masyarakat lokal yang diperjuangkannya.

Dengan isu global itu, intelektual organik-dengan tanpa sadar-sebenarnya lebih banyak mengusung wacana yang dihadapi dan terjadi di negara-negara maju ketimbang masalah yang sebenarnya dihadapi oleh masyarakat sipil di negara berkembang (periphery).

Kurang waspadanya intelektual organik dalam mengangkat isu itu akhirnya ikut mempengaruhi struktur mental dan pengetahuan mereka. Dalam struktur mentalnya, mereka seringkali menempatkan dirinya sebagai Ratu Adil yang jika tanpa dirinya, persoalan itu tidak akan selesai.

Bahkan, dengan keyakinan yang amat tinggi mereka menganggap masyarakat sebagai obyek, sehingga masyarakat perlu disadarkan dari kelelapannya.

Dengan kondisi struktur mental dan pengetahuan seperti itu, intelektual organik seringkali bersikap dan berperilaku lumpen borjuis, yang dengan gaya hidupnya mereka sengaja mengidealkan diri mereka sebagai kelas trans-nasional, yang justeru sebenarnya malah semakin menjauhkan diri mereka dari kenyataan.

Dengan kondisi mental yang cenderung elitis, lugu dalam menangkap isu dan rendah dalam tingkat kesejahteraan, tidak salah jika sebagian masyarakat ada yang menganggap perjuangan mereka tidak lebih sebagai bentuk kepanjangan tangan dari sistem besar, yaitu kapitalisme global.

Anggapan ini terutama dapat kita lihat dari kecenderungan intelektual organik yang memiliki ?cita-cita besar" untuk masuk media atau menjadikan media sebagai faktor utama dalam sosialisasi diri dan statusnya dengan cara menumpang hidup dari wacana yang diusungnya.

Wawancara dan advokasi mereka tak ubahnya selebrasi dari panggung besar bernama demokratisasi. Intinya, dengan masuk media, kelas terdidik menganggap, tugasnya sebagai agen pencerahan telah selesai.

Apa yang kita lihat dalam struktur mental dan pengetahuan intelektual organik dalam GMS akhirnya menyakinkan kita tentang struktur berpikir kelas terdidik yang didominasi nalar negara yang bertendensi menguasai nalar masyarakat.

Dengan model nalar negara itu, intelektual organik tidak saja melanggengkan kehendak untuk benar (will to truth), tetapi juga telah menggeser dirinya berkehendak untuk berkuasa (will to power).

Bergesernya peran mereka-dari agen pencerahan menjadi pelanggeng hegemoni-terjadi seiring dengan semakin kuatnya budaya patron di kalangan kelas terdidik yang tidak lain untuk kepentingan eksistensi diri, status dan akumulasi modal. Disinilah, doktrin knowledge is power benar-benar dipahami dan dijalankan dengan pragmatis dan ironis.

Banyaknya intelektual organik yang kini banyak menjadi dewan pakar di partai-partai politik sebenarnya merupakan satu langkah mulia, yaitu untuk memberi warna baru dalam perpolitikan.

Tetapi fakta di lapangan sering berbicara lain. Perpindahan intelektual organik dari GMS (civil society) ke partai (political society), sebaliknya, lebih cenderung menjadi penyokong dari setiap kebijakan politisi urakan. Mereka oleh Noam chomsky disebut dengan secular priesthood, yaitu intelektual yang tugasnya menyiapkan dasar legitimasi kekuasaan dan kebijakan partai-partai politik.

Karena itu, adalah suatu hal yang wajar jika kini distribusi pengetahuan dan kontribusi intelektual organik terhadap penyadaran dan penguatan GMS dipertanyakan.

Terjadinya disorientasi kebangkitan kelas terdidik di tengah kondisi kehidupan negara dan masyarakat yang serba ambigu ini akhirnya akan membuktikan kata-kata Edward Said yang menyebut mereka sebagai ?imperialis terdidik" baik secara langsung maupun tidak langsung.

Ibarat marsose di zaman kolonial, intelektual organik tidak saja melanggengkan kolonialisme dari Negara Pertama terhadap Negara Ketiga, tetapi juga telah menciptakan kolonialisme dan imprealisme pikiran, yaitu dari kelas uneducated people menjadi well informed people. Well informed people disini bukan berarti mereka saja yang bisa sekolah ke luar negeri, tapi bisa juga intelektual dalam negeri yang sering memberi legitimasi atas terjadinya pembekuan kebangkitan kelas terdidik, seperti mencari patron.

Demikian pula dengan uneducated people. Sebutan ini bukan hanya untuk mereka yang tidak mendapatkan akses dalam pendidikan, tetapi juga termasuk mereka yang secara tidak sadar telah terkooptasi struktur mental dan pengetahuannya oleh struktur negara, sehingga tidak ada lagi kemampuan dan keinginan untuk bergerak secara mandiri.

Karena itu, kaum intelektual organik harus menyadari betul bahwa berdiri di posisi ini bukan berarti kita bebas nilai dan netral, tetapi adakalanya kita bisa terjerumus secara tidak sadar ke dalam sistem yang eksploitatif dan manipulatif.

Lalu, sudahkah kita merenung apa yang telah kita pikirkan dan lakukan kemarin?

Oleh: Salman Al Farisi Technical Assistant LEMLITBANG PonPes Nazhatut Thullab Sampang; Jaringan Komisi (JARKOM)Fatwa Surabaya

Minggu, 22 Juli 2012

Puasa dengan Nilai


Berpuasa dengan Nilai

Puasa mempunyai arti dasar yaitu, membakar. Kalau di maknai secara sederhana, maksudnya membakar adalah menghapus dosa. Puasa di maknai sebagai media untuk menghapus segala dosa yang di lakukan. Dosa yang di maksud adalah dosa jasmani, baik perbuatan, perkataan, maupun hati. Secara hukum, puasa di bagi menjadi dua yakni yang bersifat wajib dan sunnah. Puasa wajib di kenal dengan Puasa Ramadhan, dan puasa yang sifatnya sunnah antara lain puasa hari senin kamis, puasa tengah hari bulan hijriah, puasa daud dan lainnya.
Yang wajib yang harus di lakukan bagi yang mampu, dan sunnah bukan berarti tidak di pikirkan akan tetapi itu menjadi amalan yang perlu di perhatikan hukumnya. Puasa Ramadhan menjadi momen kebahagiaan bagi orang-orang yang benar-benar bertaqwa kepadaNya dan menjadi kebencian bagi yang kering hatinya dan tipis iman. Padahal momentum bulan puasa, adalah hal yang di tunggu oleh Nabi beserta sahabatnya karena saking luar biasa nya pahala yang akan di dapat. Dengan Ramadhan, manusia akan banyak belajar dari hidup yang telah di jalani nya. Karena puasa memaksa seseorang untuk menahan dari segala yang membatalkannya. Tidak hanya menahan makan dan minum, akan tetapi menahan juga dari perkataan kotor, nafsu, dan pikiran-pikiran yang tidak berimbang.  Ramadhan menjadi media untuk refleksi, pengendalian diri dan belajar untuk empati terhadap sesama.
            Ada nilai penting dalam pelaksanaan puasa ramadhan, yakni kembali fitrinya jiwa manusia, atau di ibaratkan sebagai raga yang keluar dari rahim, terbebaskan dari dosa. Dimensi puasa memiliki peran urgen yang di antaranya di ambil dari sebagian tafsir al maraghi:

1.     Sebagai pengendali diri
Di saat puasa, manusia harus mampu mengendalikan apa yang menjadi nafsu untuk berbuat salah. Nafsu untuk makan, minum, berlaku aniaya, dengki, iri, bohong dan semuanya yang mendekatkan pada hilangnya pahala puasa dan batalnya puasa. Di sadari atau tidak, puasa mengajarkan manusia untuk menahan segala yang tidak manfaat, yang tidak berpahala dan yang tidak di tutunkan. Seakan menjadi manusia pendiam dan selalu berusaha cenderung untuk selalu berpikir positif  dan anti kesalahan.

2.     Sebagai bentuk takut kepada Alloh
Manusia yakin bahwa saat puasa hanya Alloh saja yang akan menyaksikannya atas segala amal yang di perbuat, karena Alloh lah yang akan mengontrol nya langsung tidak ada yang lain. Seorang hamba di uji, apakah puasanya itu sebagai bentuk menggugurkan kewajiban saja atau hanya sebagai bentuk kolektivitas keimanan atau memang benar-benar takut kepada-Nya.

3.     Mengahancurkan tajamnya syahwat dan nafsu
Seperti berdasar hadits Rosul yang intinya bahwa siapa saja yang tidak kuat untuk menahan nafsu nya maka hendaklah untuk berpuasa. Inilah salah satu kehebatan puasa dalam mengendalikan syahwat. Alloh pun memberikan kebijakan dan aturan penuh kepada hambanya, bilamana tidak mampu menahan syahwat berkumpul dengan si istri, maka seorang hamba hanya di bolehkan pada malam hari nya saja.

4.     Mengajari manusia untuk berkasih sayang
Bulan puasa mengajarkan manusia untuk saling memberi, saling mengasihi dan tolong menolong. Akan muncul rasa empati yang lebih terhadap sesame. Seseorang akan lebih mudah bershodaqoh atau memberi pada bulan ramadhan, di banding pada bulan-bulan yang lain, karena memang bulan memiliki keistimewaan tersendiri.


5.     Puasa memberikan keteraturan hidup
Dengan puasa manusia akan mengalami keteraturan hidup lewat buka puasa dan sahur selama satu bulan. Jadwal sahur dan buka yang telah di atur secara syar’i, memiliki nilai untuk mengajarkan manusia untuk bersikap disiplin dan sabar. Bagi yang betul-betul memaknai puasa sebagai lading beribadah, tentunya tidak terlalu memikirkan waktu berbuka dan sahur secara berlebihan, karena memang puasa nya itu benar-benar berasal dari kesadaran iman.

6.     Dengan puasa, menjadikan sehat
Puasa bisa menjadi obat dari berbagai penyakit. Tidak ada cerita, kalau manusia mati karena puasa. Di dunia kesehatan, puasa menjadi alternatif utama bagi pasien sebelum di lakukan operasi. Proses ilmiahnya, dengan berpuasa banyak racun makanan yang terminimalisir di dalam lambung dan tentunya itu akan menyehatkan dengan sedikitnya racun/zat kimia berbahaya yang terbawa lewat makanan.

7.     Puasa mengajarkan manusia beribadah total
Ibadah di bulan puasa, merupakan aspek yang menjadi nilai tersendiri di bulan ini. Beramal pada bulan ini, memiliki rahasia pahala yang luar biasa. Bila di matematiskan, seseorang yang beramal satu maka 2 pahala yang di peroleh dan bahkan berlipat. Maka bulan puasa biasa di sebut sebagai bulan untuk beramal sholeh.

Puasa merupakan ibadah yang memiliki dua hubungan sistematis, yakni kepada Alloh (Horizontal) dan kepada sesama (vertical). Puasa mengajarkan manusia untuk taat kepadaNya dengan sebenar-benarnya taqwa, hal itu di wujudkan dengan ikhlas untuk menahan lapar, dahaga, nafsu dan perkataan serta perbuatan yang tidak di benarkan. Alhasil, puasa adalah proses menjaga dan proses membangun spirit ketaqwaan. 

Mengajarkan manusia untuk berlomba-lomba dalam kebaikan adalah bagian dari nilai puasa romadhon. Di samping manusia di tuntut untuk melakukan serangkaian kegiatan ibadah di bulan puasa, seperti berbuka puasa, Tarawih, Sahur, Tadarus, dan memperbanyak dzikir, seseorang yang berpuasa juga di uji seberapa ikhlas terhadap nilai sosial kepada sesama.  Puasa adalah ujian ketaqwaan seseorang dan ujian humanitas seseorang. Puasa menjadi pilihan, apakah hamba itu mampu memaknai puasa dengan sebenar-sebenarnya ataukah hanya di anggap sebagai rutinitas tahunan yang tak bernilai ibadah dan sekedar menjawab identitas sebagai seorang mukmin.  

Dari nilai dimensi puasa di atas, secara teoritis dapat di analisis bahwa puasa adalah kompleksitas ibadah seorang hamba kepada TuhanNya. Dari berbagai prinsip ibadah yang ada, dan puasa mempunyai nilai tersendiri dalam menguji hambaNya yang bertaqwa. Dan akhirnya puasa akan benar-benar menjadi bulan kemenangan umat islam bila mana manusia (umat islam) itu sendiri memaknai puasa sebagai bulan renungan, bulan instrospeksi diri, dan bulan metamorphosis nilai keimanan.